30 Maret 2006

Hati-hati Beli Al Qur'an Yah =)

Sebelum membaca postingan kali ini harap dicamkan baik baik:
  • Pertama, saya sama sekali TIDAK membahas isi wahyu Al Qur'an di sini. Yang saya bahas adalah isi pembukaan (Muqaddimah) yang ditulis pada halaman-halaman sebelum wahyu Al Qur'an itu sendiri. Saya juga tidak akan memojokkan agama apapun di sini.
  • Kedua, buku yang saya pegang ini agak2 outdated (1997), semoga saja isinya sudah berubah, tetapi kalau belum berubah jadikanlah postingan saya ini sebagai referensi dan pertimbangan.



All fine with that? Ok, mari kita mulai.
Seharusnya postingan ini saya tujukan kepada Departemen Agama, tetapi sepertinya mereka masih sibuk mengurusi korupsi di dalam departemennya, jadi biarlah ini menjadi babbling saya di sini.

To my Muslim friends, kalau bisa jangan membeli Al Qur'an dan Terjemahnya yang diterbitkan oleh CV Jaya Sakti, yang mendapat rekomendasi dari Departemen Agama. Setidaknya jangan yang dicetak tahun 1997 (yang saya pegang sekarang ini, judulnya Al Qur'an dan Terjemahnya Juz 1 - Juz 30, cetakan 1997)

Kenapa saya katakan demikian? Karena sebelum wahyu Al Qur'an itu sendiri, ada Muqaddimah (pembukaan) dari penerjemah. Isi dari Muqaddimah inilah yang tidak bisa saya terima, karena di dalamnya terdapat pencomotan secara seenaknya dan bohong dengan menggunakan ayat-ayat agama lain untuk membenarkan hal yang sedang dibicarakannya.

"Jangan menuduh tanpa bukti dong!"
Yep, tuduhan tanpa bukti adalah fitnah, dan fitnah itu lebih kejam daripada fitness atau fitting, kata teman saya.

Ada banyak hal yang bisa dikemukakan sebagai bukti, tapi agar postingan ini tidak menjadi sangat panjang dan membosankan yang membacanya, saya kemukakan satu saja, biar memenuhi syarat dari Matematika Diskrit, untuk membuktikan A salah cukup dengan memberikan satu kondisi dimana A menjadi salah ( bener ga sih ini? yah anggap aja bener lah :P ). Lagipula saya hanya akan membahas comotan ( duh istilahnya, comotan =)) ) dari kitab suci agama saya, yaitu Alkitab.

Contoh kesalahanOk, mari kita buka halaman 39, Bab Dua, tentang jawaban perlunya Al Qur'an diturunkan. Saya akan membahas poin (a) di sini.
Di sini dituliskan bahwa Nabi Isa a.s. diutus untuk sesuatu kaum tertentu.
Dan salah satu pembuktiannya adalah dengan menggunakan ayat Injil.

Kumpulan ayat pertama yang diambilnya adalah I Samuel 25:32, I Raja-Raja 1:48, I Tawarikh 16:36 dam I Tawarikh 6:4.

Komentar saya?
  • Pertama, kitab ini bukan Injil. Yang dikatakan Injil itu adalah 4 kitab Perjanjian Baru, yaitu Matius, Markus, Lukas, Yohanes; dan kitab lain itu tidak pernah disebut Injil. Alkitab != Injil.
  • Kedua, semua ayat yang ditulis di atas itu tidak satupun membahas tentang Yesus Kristus (Nabi Isa a.s.). Ga nyambung gitu loh! =))

Kumpulan ayat kedua yang digunakannya (dan ini dibuka dengan explicitly mengatakan Yesus juga menganggap dirinya sebagai nabi untuk Bani Israel, apabila ada orang lain mendekati dia maka ia mengusirnya) adalah Matius 15:21-26

Berikut adalah yang ditulis di Muqqadimah:
Maka Yesus keluarlah dari sana, serta berangkat ke jajahan Tsur dan Sidon. Maka adalah seorang perempuan Kanani datang dari jajahan it, serta berteriak, katanya: Ya Tuhan, ya anak Daud, kasihanikanlah hamba; karena anak hamba yang perempuan dirasuk setan terlalu sangat.
Tetapi sepatah katapun tiada dijawab oleh Yesus kepada perempuan itu. Maka datanglah muridnya meminta kepadanya, serta berkata: Suruhlah perempuan itu pergi, karena ia berteriak-teriak di belakang kita.
Maka jawab Yesus, katanya: Tidaklah aku disuruhkan kepada yang lain hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani Israel.
Maka datanglah perempuan itu sujud menyembah dia, katanya: Ya Tuhan, tolonglah hamba!
Tetapi jawab Yesus, katanya: Tiada patut diambil roh dari anak-anak, lalu menyampaikan kepada anjing.

Seems perfect? Well, penggunaan ayat kedua ini mempunyai kesalahan-kesalahan fatal:
  • Pertama, kalau berhubungan dengan ayat kitab suci, kita harus mengutip bukan merangkum, karena artinya dapat berbeda. Tidak satupun kata-kata, tanda baca, huruf kecil dan huruf besar, pokoknya tidak satupun apapun boleh diubah dari aslinya. Dan kumpulan ayat kedua yang ditulis di sini berbeda dengan aslinya. Contoh, di atas dituliskan: "...Tiada patut diambil roh dari anak-anak...", while aslinya adalah "...Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak...". Artinya sangat berbeda, bukan?
  • Kedua, kesalahan yang sangat umum terjadi saat perdebatan agama oleh para idiot fanatik agama manapun, adalah pencomotan dan pemotongan ayat secara seenaknya. Bagian Matius ini adalah bagian bersambung dari ayat 21 - 28, dan tidak bisa dipisahkan karena akan menimbulkan pengertian yang salah seperti di atas.

Berikut adalah salinan langsung Matius 15:21 - 28 dari Injil yang saya punya.
15:21 Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
15:22 Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
15:23 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel."
15:25 Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
15:26 Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
15:27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
15:28 Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Jelas kan kesalahan pengutipan dan pemotongan ayat yang saya ceritakan di atas? Kata-katanya diubah, sehingga menimbulkan pengertian berbeda, dan dipotong sebelum akhir cerita untuk menimbulkan kesan benar. Padahal semua itu salah. Apa yang sebenarnya diceritakan di sini? Yesus menguji iman ibu tersebut. Kondisinya seperti saat Nabi Ayub diuji dengan dibuat miskin, ditinggalkan semua orang yang dikasihinya dan sakit-sakitan. Hanya itu, tidak lebih tidak kurang. Untuk apa? Untuk mengetahui ibu itu setia apa tidak? Salah! Yesus sudah amat sangat tahu kesetiaan ibu itu, dan dia melakukan hal ini untuk menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa imanlah yang akan menyelamatkan, bukan ras unggul atau ras pilihan Tuhan atau apalah itu namanya.

Jadeeee, dari satu pembahasan ini sudah kelihatan kan kalau Muqaddimah yang diberikan di sini itu ngawur. Inilah yang menjadi alasan saya. Dan sedihnya kitab ini adalah rekomendasi dari Departemen Agama :(

Saran saya beli saja Al Qur'an dari penerbit lain, kalau bisa yang ngga pake embel-embel pembukaan dari penulis, jadi langsung wahyu Al Qur'an itu sendiri supaya tidak terjadi hal seperti ini. Bukan apa-apa, kalau seperti ini berarti ada kebohongan di dalam sebuah kitab (dalam hal ini saya asumsikan Muqaddimah dan wahyu Al Qur'an ini sendiri sudah dijadikan satu buku), dan bila ada kebohongan apakah pantas kitab itu disebut kitab suci? Tidak ada terbitan dari penerbit lain? Ya sudah, kalau anda termasuk berkepentingan dan peduli atas hal ini (which means peduli terhadap agama anda sendiri), silahkan protes ke Departemen Agama. Yah moga-moga saja protes anda dipedulikan =) Dan kalau ternyata dalam terbitan tahun yang lebih baru hal ini sudah diperbaiki, bagus deh.

And anyway, kenapa tiba2 gw membahas hal ini?
Jadeee, saya lagi stres liat TA, trus liat ada buku nganggur, ya baca ajah... eh yang dibaca ternyata adalah Al Qur'an dan Terjemahnya ini =))

3 komentar:

mahli mengatakan...

saran diterima. thx for the heads up. so, ada terjemahan lain?

kunderemp mengatakan...

Ada 2 isu yang berkaitan dengan tulisanmu, Mot..

Pertama: Terjemahan Alquran bukanlah Alquran
Terima kasih untuk Ramot yang bersedia mengerti kalau mukadimah bukanlah bagian dari AlQuran. Namun, terjemahan AlQuran itu sendiri bukanlah AlQuran. Pada saat menerjemahkan, tetap ada semacam ide prasangka yang ada di benak penerjemah.

Terjemahan Indonesia sendiri sebenarnya termasuk netral (tampaknya, penerbit apapun di Indonesia, terjemahannya selalu sama. Tidak seperti luar negeri yang benar-benar beragam), tapi pembagian menjadi segment-segment kadang menyesatkan pembaca yang membaca ayat tertentu.

Selain itu, ada pula tambahan (ini kesalahan yang juga dilakukan penerjemah di luar negeri) yang jadi mengekang makna aslinya. Misalkan, kata "Allah" yang sebenarnya diucapkan sebelum sebuah makanan dimakan, di terjemahan Indonesia menjadi seakan-akan harus diucapkan saat hewan disembelih, yang akhirnya membuat muslim di Indonesia (dan ada beberapa muslim di luar negeri yang juga ignorant)menganggap makanan daging harus disembelih oleh sesama muslim. Dan mereka tetap ngotot walaupun pengertian yang lebih bebas dalam Alquran sesungguhnya (bahasa Arab) diperkuat dengan sebuah hadits shahih.

Di luar negeri sendiri, karena beragam kepentingan dan latar belakang serta karena tidak adanya lembaga pengawas penerjemahan Alquran seperti Departemen Agama, Alquran terjemahan bahasa Inggris lebih beragam, dari sangat keras hingga sangat lunak, dari sangat tidak toleran hingga sangat toleran. Perbedaan-perbedaan antara terjemahan Alquran bisa dibaca di:
http://www.islamawakened.com/Quran/caa.html

Itupun sebenarnya ada beberapa dugaan-dugaan korupsi berupa pengeditan beberapa terjemahan oleh Arab Saudi. Misal, terjemahan Yusuf Ali (yang aslinya diterbitkan di India) konon mengalami pengeditan saat diterbitkan oleh Arab Saudi, dan kini, Alquran terjemahan Yusuf Ali yang beredar bukanlah terjemahan asli 100% dari dia melainkan terjemahan yang sudah diedit oleh pemerintah Arab Saudi (konon karena latar belakang Yusuf Ali yang Syiah). Kalau kalian pernah melihat terjemahan Yusuf Ali yang terbit di tahun 1930-an (aku pernah melihat di perpustakaan di Australia), maka itulah terjemahan beliau yang asli.

Kedua:Hati-hati saat mengomentari agama lain
Isu yang disebut oleh Ramot, sebenarnya sudah muncul dalam debat-debat agama. Namun, pertanyaannya, apakah layak memasukkan hal-hal seperti itu dalam terjemahan AlQuran.

Sekitar tiga tahun lalu, ada seorang Hindu yang juga protes dengan terjemahan Alquran yang mukadimahnya menyatakan umat Hindu tidak adil kepada kaum Sudra. Mukadimah itu berdasarkan kitab "Gautama Dharmasutra". Menurut rekan hindu tersebut, sumber yang dimaksud bukanlah Veda melainkan hanya ucapan salah satu begawan, yang tidak mutlak diikuti oleh umat Hindu. Intinya, rekan tersebut memprotes, tidak layak menyatakan umat Hindu begitu begini hanya karena sebuah kitab yang bahkan bukan pegangan mutlak.

Aku sendiri juga tidak begitu suka dengan dakwah yang menyerang agama lain. Bahkan Alquran sendiri mengajarkan, kalaupun berdebat dengan agama lain, berdebatlah dengan cara yang baik. Dan salah satu gaya Alquran adalah mengalihkan perdebatan dari hal-hal yang tidak perlu ke aplikasi. Alquran justru dalam beberapa ayat menyuruh Rasulullah untuk mengajak umat Kristen dan Yahudi bersatu di saat itu.

Untuk sebuah mukadimah AlQuran,
aku lebih suka gayanya M.A.S. Abdel Haleem yang bukannya menyerang agama lain, justru malah membahas pentingnya berhati-hati dalam menyikapi terjemahan. Di mukadimah terjemahannya (diterbitkan oleh Oxford University Press), ia justru menggambarkan beberapa ayat kontroversial yang menurutnya adalah kesalahan menafsirkan atau penafsiran berlebihan. Dengan mukadimah seperti ini, orang justru jadi semakin tertarik untuk membaca Quran (walau terjemahannya dia tentunya ^_^*!).

Mot,
kalau mau baca Alquran terjemahan, yang bagus itu (minimal gak akan bikin orang lain tersinggung):

1. M.A.S Abdel Haleem. The Qur'an: A new Translation. (2004). Oxford University Press

2. Dr. Shabbir Ahmed. Quran as explain itself (QXP). (2005). http://www.beacon2005.com/QXP.pdf

Ramot mengatakan...

yea, emang bener muqaddimah itu bukan Al Qur'an, makanya kan dari awal gw pisahin penggunaannya.

ahh.. itu tu dari narpati ada terjemahan laen... tapi sebenarnya orang2 lebih prefer buku bahasa indonesia biasa sih nar... ^ ^; gw sendiri baca terjemahan karena gw bisa membaca bahasa arab tapi ga ngerti artinya wekekekek :P