14 Januari 2020

Agile untuk Menyeimbangkan Jalan Pintas Pikir


Jalan Pintas Pikir Itu Bagaimana?

Topik Jalan Pintas Pikir ini sempat jadi pembahasan di Channel Telegram Ngopsi. Saya jadi bisa menghubungkannya dengan langkah bisnis yang diambil orang pada umumnya. Mengutip dari Mas Andry Waseso soal Jalan Pintas Pikir, strategi ini adalah yang diambil homo sapiens di masa lalu agar bisa mengambil keputusan dengan cepat dan segera, mengingat keputusan yang cepat bisa berarti hidup atau mati untuk seorang manusia purba.. Jalan Pintas Pikir ini disebut juga mental shortcut. Di Psikologi disebut dengan istilah Heuristik. Untuk referensi bacaan bisa dibaca di sini dan di sana. Secara singkat, pola pikir ini  memasukkan hanya sebagian hal dan mengabaikan hal lain dalam pertimbangan mengambil keputusan.

Seiring dengan waktu kebiasaan memakai strategi Jalan Pintas Cepat ini menjadi sebuah kebiasaan untuk manusia dan tetap dipakai bukan hanya untuk kelangsungan hidupnya tapi hampir untuk seluruh aspek hidup, termasuk untuk menentukan bisnis dan karir, sedangkan kondisi saat ini tidak lagi seperti masa lalu. Ini menjadi masalah karena tentu saja Jalan Pintas Pikir rentan mengakibatkan kesalahan akibat ada hal - hal yang diabaikan dalam prosesnya.

Pemakaian Jalan Pintas Pikir dapat mengakibatkan prasangka atau bias kognitif, misalnya bagaimana seseorang merasa calon pilihan politiknya pasti selalu berbuat yang benar dan lawan calon pilihan politik tersebut pasti selalu berbuat yang salah, sehingga untuk setiap berita positif tentang calon pilihan politiknya hampir selalu dianggap benar (sehingga disebarkan tanpa memeriksa ulang), sedangkan setiap berita positif tentang lawan politiknya pasti hampir selalu dianggap bohong atau pencitraan saja.

Tentu saja bagi individu yang mewarisi Jalan Pintas Pikir dari generasi ke generasi akan merasa frustasi ketika diperkenalkan dengan pola berpikir kritis yang terus menerus tidak sebatas digunakan ketika menyelesaikan tugas akhir kuliah. Pola pikir kritis mengharuskan kita mempertimbangkan semua sisi dari sebuah permasalahan, hal yang justru dihindari oleh cara Jalan Pintas Pikir. Permasalahannya, hanya dengan berpikir sistematis, terbukti secara empiris, kita bisa menghasilkan solusi yang tepat guna dan membuat kita berhasil dari sekadar mengandalkan asumsi produksi Jalan Pintas Pikir tersebut.

Agile sebagai Rem

Di situlah peran rangka kerja Agile ini diperlukan untuk melatih individu (atau sekelompok individu) mempertimbangkan lebih banyak informasi dan sudut pandang. Rangka kerja Agile ini seperti mengendarai mobil dengan berkecepatan tinggi. Kita percaya diri untuk memacu karena kita yakin kendaraan tersebut punya sistem rem yang bagus dan pakem. Apakah yang jadi remnya? Ya rangka kerja Agile yang membuat kita terus disiplin untuk berpikir kritis dan empiris.



15 Agustus 2019

Semua Perusahaan Mengaku Agile, Sedikit yang Melakukannya

Sebelum membahas lebih dalam, kicauan saya masih relevan sampai sekarang:

 Mengingat Agile adalah sebuah pola pikir, salah kaprah jika berpikir Agile semata-mata mengganti jabatan seseorang dari Product Manager ke Product Owner ataupun memasang embel-embel 'perusahaan kami menerapkan Agile' di lowongan kerja agar terlihat edgy di mata calon pekerja.

Tidak ada hal baru dari Agile sebenarnya. Secara umum Agile itu menghasilkan sebuah produk berdasarkan kebutuhan klien dengan dikerjakan oleh tim yang bisa mengorganisir dirinya sendiri. Tim ini lebih baik diisi orang dari berbagai bidang jadi masing-masing bisa menyumbangkan ide segar dari hal yang mereka memang kuasai.

Sebenarnya Agile itu adalah metode sederhana untuk tujuan tepat sasaran entah itu diterapkan di dalam bidang :

Dilatihkan saja sebenarnya tidak cukup, harus ada orang-orang yang terus menerus memelihara can mengawasi cara kerja Agile ini tetap dapat berjalan di sebuah perusahaan. Mengapa? Saya menemukan beberapa tantangan menerapkan Agile di perusahaan :

1. Hambatan dari level manajer
Seringkali orang-orang di level ini lupa bahwa prinsip rangka kerja Agile adalah membuat produk dimulai dari yang sekecil-kecilnya lalu memperoleh masukan dari calon pengguna (klien). Orang-orang ini sering merasa perlu mempertimbangkan 'apa kata bos' atau 'coba ditambah ini deh, dibikin itu deh biar keren' padahal belum tentu itu kebutuhan klien. Apakah itu artinya yang tua tidak boleh beri masukan? Tentu saja boleh! dengan data empiris, bukan cuma 'menurut perasaan gue ini bakal ciamik deh, lapak sebelah bikin ini loh'.

2. Hambatan dari individu
Memang ini menjadi tantangan bekerja saat ini. Manusia dituntut menguasai satu bidang tapi tetap memiliki minat mempelajari hal lain (T-shaped skills) padahal sudah terlanjur hasil pendidikan bertahun-tahun yang tidak pernah mengajarkan orang eksplorasi dalam berbagai hal. Akhirnya tentu saja butuh waktu untuk menjembatani pergeseran itu.

3. Sulitnya Terbuka
Agile itu menuntut transparansi yang mana artinya tim perlu belajar menerima dan memberikan masukan yang jujur. Hal ini tidaklah mudah untuk kultur orang Indonesia yang cenderung memberikan jawaban baik asal temannya senang atau ketika menyampaikan kritik seringkali berakhir menghakimi. Inilah alasan mengapa Agile Campus sejak 2018 memasukkan materi komunikasi dalam pelatihan Agilenya karena pada kenyataannya untuk hal ini pun orang masih perlu belajar. Jika tidak, maka sesi retrospektif yang mana penting di Agile hanya akan menjadi sesi yang menurunkan moral anggota tim dan berdampak pada turunnya kreativitas. Mana ada sih orang yang patah arang bisa dapat ide baru? 
Selalu membuat sesuatu dengan data empiris dan mengutamakan keterbukaan itu memang susah. Agile memang sering hanya menjadi label kekinian tapi bukan berarti tidak mungkin. Rekrutlah orang yang memang siap untuk tangkas dan kalau perlu carilah Agile Coach yang memang menguasai hampir segala bidang sehingga prinsip Agile bisa terus hidup bukan cuma sekadar tempelan demi terlihat modern.



15 Juli 2019

Apa yang Berhasil di Peentar

Orang sering bilang sejarah ditulis oleh pemenang. Pada kenyataannya tergantung bagaimana sudut pandang orang yang mengalaminya. Sayangnya memahami sebuah kondisi dari berbagai sudut pandang bukanlah kemampuan alami manusia pada umumnya. Orang cenderung melihat sebuah peristiwa hanya hitam dan putih. Sehingga muncul peribahasa, nila setitik rusak susu sebelanga.

Saya memutuskan untuk menulis sudut pandang apa yang terjadi di Peentar selama saya aktif di sana (Sept 2015-Mei 2018) agar siapapun mendengar nama Peentar memperoleh sisi cerita yang berbeda. Saya tidak pernah menutupi bahwa Peentar memiliki banyak kekurangan. Namun menjadi tidak adil untuk orang-orang yang sudah berjuang di Peentar memperoleh penilaian negatif hanya karena tidak ada yang menuliskan informasi sisi lain Peentar secara sistematis.

  1. Dari Sisi Produk: Peentar membuat  sistem berbasis online-offline dengan arsitektur yang dibuat oleh Mufid, Jan Pieter dan Tonny Adhi Sebastian. Sistem terdiri dari 18 produk dengan total 200 fungsi. Untuk program serumit ini, Peentar membuatnya hanya dengan 30 karyawan IT berkebangsaan Indonesia. Apakah ada produk Peentar yang dihasilkan berdasarkan menerapkan rangka kerja Agile selain poin no 1? Ada. Dikerjakan hanya dalam waktu dua bulan di sela-sela waktu mengerjakan tugas utama di no 1. Namun tidak pernah dirilis. Padahal aplikasi tersebut memang menjawab pain dari target pengguna
  2. Dari Sisi Manajemen Manusia: Bersama Mufid dan Hanif, saya berinisiatif membuat Peentar CareerPath sehingga pegawai dengan transparan dan jelas tahu bagaimana posisi karirnya dan paham bagaimana posisi karirnya saat ini dan bagaimana caranya untuk naik karir. Mengingat Peentar menerapkan rangka kerja Agile sehingga tidak ada hierarki kepemimpinan di situ. Perlu dicatat bahwa pergantian karyawan selama saya menjabat COO hanya 4 orang per tahun dengan catatan terakhir pegawai ada 50 orang di akhir jabatan saya sebagai COO Mei 2018.
  3. Dari Sisi Perekrutan: Bersama Fitri dan Farah, saya mempersingkat perekrutan dan seleksi dari yang seharusnya memakan waktu lima hari kerja menjadi hanya tiga hari kerja. Jadi calon pekerja yang melamar mendapat kepastian apakah diterima bekerja di Peentar atau tidak setelah wawancara final. Iya kami selalu mengabarkan calon pekerja yang tidak lolos seleksi sehingga calon pekerja tersebut bisa melanjutkan hidup dengan melamar ke tempat lain. Bukan cuma mempersingkat proses perekrutan, saya pun menyusun proses onboarding yang sistematis. Pekerja baru diberikan akses ke sistem kami untuk bisa membaca buku peraturan perusahaan dalam bentuk digital, aturan umum kerja dan hal lainnya yang dapat tuntas dipelajari dalam satu hari. 
  4. Dari Sisi Komunikasi Internal: Merekrut itu susah, mengatur karyawan pun ada tantangannya. Tentunya menjadi menantang juga membuat pegawai nyaman dengan budget terbatas. Namun saya bersama tim admin berusaha membuat kegiatan sederhana tapi bisa membuat kompak karyawan yang ada. Kami membuat PiknikPeentar 2016 dan setiap tahun kami membuat kegiatan menarik di kantor dalam rangka ulang tahun Peentar. Selain itu tiap Jumat kami membuat Peentalk. Ada pula Bilik Musik Peentar
  5. Dari Sisi Komunikasi Eksternal: Kembali saya bersama tim yang ada (1 orang yang admin, 1 orang desain grafis) berusaha membuat media sosial tentang Peentar dengan budget Rp.0. Tema yang diangkat memang sederhana. Cerita tentang orang-orang yang bekerja di Peentar. Harapannya tentu saja menarik calon pekerja untuk tertarik bergabung bersama Peentar. Tampilannya bisa dilihat di Facebook Peentar, Linkedin Peentar dan Youtube Peentar. Semua tidak aktif begitu saya keluar dari Peentar
Kesimpulan? Bagaimanapun Peentar mengajarkan saya banyak hal dan saya bersyukur pernah bekerja bersama mereka. Semua orang yang pernah bekerja di Peentar terbukti etos kerjanya dan mereka telah berusaha yang terbaik ketika mereka di Peentar.


11 Agustus 2018

Bagaimana Jika Karyawan Malas?

Seiring semakin banyaknya perusahaan yang menerapkan Agile, pertanyaan ini kerap muncul di sesi pelatihan Agile Campus. Ini menjadi pertanyaan umum mengingat dalam rangka kerja yang tangkas ini, semua anggota tim yang terlibat diharapkan adalah yang profesional. Tentu harapannya adalah :

  • paham bekerja dengan efektif dan sigap
  • tidak menunggu tugas dulu baru bekerja
  • bisa bekerja tanpa perlu pengawasan penuh
Bayangkan ketika backlog sudah menumpuk, salah satu tim anda terlihat membuang waktu, reaksi awal kita cenderung ingin segera menyalahkan mereka sebagai karyawan yang malas bukan? Sebelum kita menuduh mereka, alangkah baiknya kita melihat beberapa aspek 
  • Mari cek dulu Product Owner. Apakah dia sudah menjelaskan MENGAPA? Kita sering lalai dalam hal ini. Manusia bekerja lebih giat ketika mengetahui apa alasannya sebuah tugas dilaksanakan. Ini berlaku untuk semua koq. Tidak melulu di perusahaan yang menerapkan AGILE. Nah, karena merasa bahwa karyawan hanya sebagai alat produksi, kita sering mengharapkan mereka menghasilkan sebuah karya tanpa merasa perlu menjelaskan mengapa sebuah tugas dibuat.
    • Saat sprint planning, silahkan berargumen dengan baik untuk menyarankan DT memasukkan lebih banyak PBI. Kalau memang PO dapat memberikan data yg terukur seharusnya kepemilikan tim DT nya lebih tinggi dan bersedia ambil lebih banyak tugas
  • Mari melihat Development Team. Dalam Agile, kita sepakat bahwa pekerjaan dilaksanakan oleh DT yang mana kita memberikan kepercayaan kepada tim tersebut untuk mengatur beban dan pembagian kerja di dalam tim mereka sendiri. 
    • Akan tetapi anggaplah kita agak-agak ikut campur sedikit. Kita mau tahu apakah semua hasil pekerjaan yg dia berikan memenuhi Definition of Done (DoD) atau tidak. Kecepatan kerja tiap orang memang beda-beda. Kalau semua pekerjaan dia masih memenuhi DoD, maka harusnya tidak masalah.
  • Di sini masuknya peran Scrum Master. Anggaplah ternyata memang benar kontribusi karyawan tersebut yang paling sedikit. Bagaimana kita bisa menunjukkannya sehingga ada perubahan nyata? Ya pastikan segala sesuatunya terukur dan terbukti. Bukankah Agile mendasari segala sesuatu dari data empiris? Scrum Master silakan total deliverables dalam 1 sprint dan dipampang ke umum berikut 'skor' total pengerjaan orang-orang, jika memang dia kerja dikit harusnya 'skor' dia paling sedikit. Jadi bisa kelihatan. 

SM is a full time work. It's like taking care of 3 to 9 children to reach their maximum potential, there's no junior or senior position in that 😁
Berikutnya untuk Tim HRD/ Manajemen:


Tindak lanjut dari skor yg keliatan di atas bisa beragam:
- bisa jadi yang bersangkutan akan malu sendiri
- bisa jadi tim baru sadar ada yang kurang perform
- bisa jadi terjemahannya di penggajian, more points = more salary
- bisa jadi sebenarnya tim sudah tahu dan tidak mempermasalahkan karena pekerjaan yang bersangkutan di dalam tim nya bukan hanya sebagai pekerja deliverables tapi yg juga membuat tim semangat?

Dari pengalaman saya pribadi, internal tim itu jauh lebih tahu kalau ada problem dengan satu atau dua orang di tim. Saya tidak pernah punya inisiatif mecat orang. Tapi tim-tim saya selalu menginformasikan apakah ada anggota tim yg mereka rasa kurang cocok untuk bekerja sama. So they sort out their own problem. Jadi tidak terbalik, yaitu tim menunggu2 saya "nyadar" dan mengeluarkan orang tersebut. DT yang punya inisiatif dan saya sebagai manajemen yang memfasilitasi apapun inisiatif mereka.

Sebagai manajemen juga harus mengerti, ketika kita yang mengeluarkan orang, resikonya adalah bisa jadi sudah terlambat DAN bisa menurunkan moral orang (bagaimanapun pemecatan dari manajemen itu membuat karyawan "panik"), tapi kalau tim yang mengeluarkan orang dan kita memenuhi permintaan mereka, moral mereka justru naik karena mereka sudah diberikan kepercayaan untuk mengatur semua masalah internal mereka.

Yang membuat DT tidak bisa menyelesaikan masalahnya biasanya adalah perusahaan tidak memberikan kuasa yang cukup bagi atau tidak mempercayai dan menjalankan saran keputusan dari DT untuk menyelesaikan masalahnya. 

Misalnya keputusan untuk mengeluarkan seseorang dari tim bukan di tangan mereka, tapi di tangan manager sumber daya yang mereka juga hanya melihat orang ini dua kali, saat wawancara masuk dan saat wawancara keluar 😁 Ini yang disebut sebuah perusahaan yang minta developernya agile tapi perusahaannya sendiri sebenarnya tidak bersedia agile.Kalau satu tim semuanya defensif dan tidak perform, kemungkinan yang salah justru rekrutmennya 😁 Kenapa rekrut tim yang tidak bersedia agile untuk mengikuti cara agile?

Kesimpulannya, hati-hati menerjemahkan pekerjaan seorang DT dari sisi 'produktif'. Itu dekat ke abuse of power. Lebih baik menerjemahkannya ke sisi 'happiness'. Happy people are productive people.




21 Juni 2018

Ketika Perusahaan Ingin Menjadi Agile

Agile alias tangkas saat ini sering digunakan sebagai solusi dalam pengembangan program. Awalnya Manajemen Tangkas atau lebih dikenal dengan Agile Management disusun beberapa orang yangberkumpul untuk memecahkan masalah pengembangan software yang lebih baik. Mengapa mereka akhirnya berkumpul? Karena awalnya software dikerjakan dengan metode tradisional yang mana seringkali software developer seringkali menjadi sering ditekan. Dari situ terlahirlah sebuah pakta yaitu Agile Management. Walaupun pembuat awal adalah software developer, sebenarnya dasar pemikiran Agile Management adalah berdasar tindakan LOGIS yang dilakukan manusia dalam menghadapi sebuah permasalahan.

Jadi prinsip LOGIS ini tidak terbatas pada pengembangan software saja, tapi juga ke pengelolaan managemen umum. Sebelum terburu-buru mengubah menjadi Agile, sebenarnya ada hal yang perlu diperhatikan:

  • Training for Executive. Pemimpin perusahaan sudah siap untuk berubah dan belajar apa itu Agile Management. Dari situ, para senior ini perlu sampai di titik apakah perbedaan manajemen yang lama dengan manajemen tangkas ini. Fungsinya apa?
    • Executive inilah yang akan merevisi key performance indicator karena tentunya KPI manajemen tradisional berbeda dengan KPI manajemen tangkas
    • Mengedukasi klien cara kerja Agile ini
  • Lupakan masa lalu. 
  • Agile bukan soal berubah hierarki tapi soal pola pikir
Memang apa kekuatan dari Agile Management ini? Menghasilkan sebuah produk yang benar-benar dibutuhkan oleh user tersebut karena produk yang dibuat dekat dengan user. Contoh sederhananya seperti ini, dalam metode Agile Management, jika ingin membuat sepeda, maka tim pembuat sepeda akan menanyakan apa kebutuhan pengguna dalam sebuah sepeda. Tentu saja tidak selalu pengguna tahu kebutuhan apa saja yang sebenarnya dibutuhkan. Itu tidak menjadi masalah di Agile Management. Dibuatlah sepeda prototipe 1 berdasarkan info dari pengguna. Sepeda tersebut sudah bisa digunakan, diminta dicobakan ke pengguna lalu mendapat masukan dari pengguna. Dari situ dibuatlah perbaikan dan menghasilkan prototipe sepeda no 2. Begitu terus sampai memperoleh sepeda ideal bagi user yang mana itu adalah prototipe sepeda no 5. 

Bedanya dengan yang tradisional adalah tim pembuat sepeda menggunakan asumsi apa yang dibutuhkan pengguna sepeda. Mereka memutuskan fitur-fitur lalu langsung membuatnya. Seringkali ketika sepeda yang dari sudut pandang tim pembuat sudah lengkap, ternyata bukanlah yang dibutuhkan pengguna. Akhirnya produk yang dihasilkan seringkali tidak optimal. Sementara dengan Agile Management, produk yang dihasilkan adalah produk yang 100% tepat guna bagi pengguna.

Nah dalam Agile Management juga diterapkan untuk membuat prioritas fitur produk yang paling dibutuhkan oleh pengguna. Misalnya di tahap awal pengguna menyatakan bahwa yang paling penting adalah A-B-C-D-E. Maka dibuatlah fitur A dulu, selesai kemudian dicobakan. Setelah itu pengguna bisa jadi memberi masukan bahwa B menjadi tidak diperlukan tapi justru E. Maka E lah yang dikerjakan. 

Apakah Agile Management ini lebih cocok untuk perusahaan baru? Tentu jika perusahaan masih baru, semua masih seperti lembaran kosong tanpa ada kultur lama. Namun bukan berarti perusahaan lama tidak bisa berubah. Itu tinggal seluruh tim dan manajemen memang ingin berubah. Nah perubahan ini bisa dimulai dari 1 tim percontohan dulu. Jika tim ini bisa menunjukkan cara kerja yang lebih bagus, produk yang lebih tepat guna, lebih mudah menularkan prinsip Agile ini ke tim lain sehingga seluruh tim di perusahaan menjadi tangkas. 


28 September 2017

Mari Main Susun - Susun APBN

Update kecil saja, Kementrian Keuangan membuat sebuah permainan yang menurut saya menarik. Kita bisa mencoba membuat sendiri pengaturan proporsi keuangan APBN. Tentunya ada syarat - syarat yang harus dipenuhi agar pengaturan yang kita lakukan dinyatakan sesuai.

Untuk main, silahkan masuk ke https://www.kemenkeu.go.id/simulasiapbn/

Hasil saya dapat dilihat di bawah ini. Sebenarnya analisanya ada yang hilang, yang saya prioritaskan adalah fasilitas umum, ekonomi (infrastruktur), kesehatan, pendidikan dan jaminan sosial. Sedangkan yang saya pangkas anggarannya adalah anggaran aparatur negara (lupa namanya haha), keamanan dan pertahanan. Saya juga memangkas anggaran ekonomi, tapi masih cukup besar proporsinya. Itu anggaran pariwisata sepertinya persentasenya naiknya besar sekali, padahal karena memang awalnya jumlahnya kecil sekali, naik sedikit saja persentasenya langsung naik segitu banyak. Tapi saya sendiri merasa memang harus dinaikkan, dengan tujuan dimanfaatkan untuk memicu tumbuhnya usaha - usaha kreatif baru.


Bagaimana dengan kamu? Yang mana yang akan kamu prioritaskan?

10 Juni 2017

Makan Siang dengan Kucing

Sebenarnya makan siang dengan kucing adalah hal yang biasa saya jalani. Toh di tempat saya bekerja, kami memelihara 3 kucing yang selalu santai di taman waktu jam makan siang. Namun siapa yang tidak tertarik mencoba pengalaman makan siang dengan kucing kesayangan di tempat nyaman. Jadi meluncurlah tim Rumah Steril bersama kucing masing-masing untuk ikutan fancy dining dari Fancy Feast.
wew ada tim Rumah Steril


Waktu acara ini saya jadi paham tentang Fancy Feast. Selama ini saya melihat Fancy Feast sebagai makanan basah biasa yang muncul dengan kemasan mungil. Ternyata bukan cuma sebatas itu saja. Fancy Feast memperhatikan tekstur makanan dan menyediakan beragam pilihan daging olahan sehingga kucing tidak bosan. Fancy Feast hadir bukan untuk menggantikan makanan sehari-hari kucing kesayangan, tapi sebagai alternatif selingan agar kucing tidak bosan.
Di acara ini juga ditunjukkan penyajian makanan basah yang menarik dan seringkali tidak disadari pemilik. Kucing sebenarnya bisa makan sayur asal dengan asupan terbatas. Selama protein lebih tinggi daripada sayuran, kucing tetap sehat karena apapun terjadi sayur mengandung serat yang baik juga untuk pencernaan kucing. Kuncinya ya tidak terlalu banyak

Sayangnya kucing kami terlalu malu untuk makan makanan yang disajikan, mau minta bungkus, sadar diri ini bukan pesta orang Batak. Baru setelah tiba di rumah, kucing-kucing tersebut makan Fancy Feast dengan lahap. Tadinya kami pikir cuma rasa tertentu yang disuka, ternyata setelah seminggu semua stok kaleng habis dan benar-benar dilahap tuntas sampai habis!
merayu untuk makan..
Nah foto-foto di atas adalah foto resmi dari Fancy Feast, kami sendiri merekam momen menarik tersebut dalam sebuah video singkat! Enjoy!


21 Agustus 2016

Mengeset Koneksi Internet Sebagai "metered" Supaya Windows 10 Tidak Download Update Otomatis

Ada satu hal tentang Windows 10 yang saya pelajari the hard way hari ini. Ternyata setiap kali Windows 10 terkoneksi dengan internet baik melalui ethernet (LAN) atau WiFi, secara default Windows 10 menganggapnya sebagai koneksi unmetered alias gak ada kuota. Hal ini mengakibatkan semua fungsi update otomatis Windows 10 tetap berjalan.

Hal ini menjadi masalah ketika kita berselancar dengan menggunakan koneksi dari operator 3G atau 4G dengan cara tethering atau wireless hotspot dari smartphone. Ketika terkoneksi, Windows 10 secara default menganggap koneksi kita tidak ada kuotanya sehingga jika pada saat yang bersamaan ada update yang perlu diunduh, Windows 10 akan langsung mengunduh update tersebut. Jika update tersebut ukurannya 2 GB, maka katakan selamat tinggal akan kuota anda 2 GB lebih.

Untuk mengubah hal ini, kita perlu mengeset koneksi WiFi ini menjadi "metered" alias ada kuotanya sehingga Windows 10 tidak mengunduh update. Caranya adalah:
1. Klik tombol Windows di kiri bawah Desktop dan pilih Settings untuk masuk ke Settings.
2. Klik Network & Internet.
3. Di bagian WiFi, klik wireless hotspot smartphone kamu dan klik connect untuk terhubung.
4. Setelah terkoneksi, scroll ke bawah dan klik Advanced Options.

5. Scroll ke bawah, di bagian Metered Connection, turn on (jadi biru) Set as metered connection.

6. That's it. Untuk wireless hotspot smartphone ini Windows 10 akan menganggapnya sebagai metered connection sehingga tidak otomatis mengunduh update.
7. Penting: ulangi hal ini untuk setiap smartphone lain yang akan diconnect ke Windows 10. Jadi kalau kamu biasanya connect ke hp kamu, hp pacarmu, hp selingkuhanmu, lakukan ini untuk setiap hp tersebut kalau gak mau dibilang tukang sedot (data).
8. Penting: jika kamu menggunakan OneDrive, mengeset koneksi ke metered tidak akan membuat OneDrive berhenti mensinkronisasi berkas dari cloud ke komputer dan sebaliknya. Jadi jika memakai koneksi dengan kuota dan tidak memerlukan OneDrive, matikan saja dulu dengan klik kanan ikon OneDrive dan pilih Exit. Jika sama sekali tidak menggunakan OneDrive, disable saja service nya dengan cara masuk Task Manager lalu klik tab Startup dan disable Micosoft OneDrive.

Apakah kalian menyadari hal yang sucks dengan cara ini? Ya, di nomor tiga, kita harus connect dulu ke wireless hotspot-nya baru bisa mengakses Advanced Options di nomor empat. Jika kita mengakses Advanced Options tanpa connect dulu ke wireless hotspot, opsi set metered connection tidak ada. Hal ini mengakibatkan sampai kita mengaktifkan set as metered connection Windows 10 sudah langsung mengunduh update dulu, dan ini paling merugikan jika koneksinya 4G karena koneksinya bisa sampai 40 mbps (5 MB/s). Anggap saja kita membutuhkan waktu 20 detik untuk menyalakan opsi set as metered connection, berarti Windows 10 sudah menghabiskan kuota kita sebanyak 100 MB sebelum akhirnya berhenti mengunduh. Totally sucks, huh?

Saya sendiri baru menyadari ini ketika kuota awal saya 500 MB habis, lalu beli paket tambahan 1,2 GB dan juga habis dalam beberapa menit, dan akhirnya memonitor aktivitas WiFi via Task Manager dan menemukan hal ini. Yeah, shit happens -.-

17 Juni 2016

Penjara Setan : Alternatif Hiburan ke Pekan Raya Jakarta 2016

Pekan Raya Jakarta sepertinya sudah menjadi kegiatan tahunan yang selalu ditunggu orang terutama yang ingin mencari motor, sepeda, ataupun kebutuhan lainnya. Kebetulan tahun ini Pekan Raya Jakarta bertepatan dengan bulan puasa. Tentu harapannya gairah berbelanja pengunjung akan lebih baik begitu THR turun.

Saya sendiri baru kedua kalinya ke PRJ. Beberapa tahun yang lalu saya ke PRJ untuk melihat-lihat motor. Tahun berikutnya saya tidak ke PRJ karena memang tidak ada yang ingin saya lihat.Ternyata tahun ini ada yang beda. Rencana saya yang awalnya mencari sepeda listrik, akhirnya malah melihat ke beberapa pojok menarik di Pekan Raya Jakarta

1. Penjara Setan. 

Intinya adalah rumah hantu. Cuma karena ini diselenggarakan ketika bulan Ramadan, maka namanya diubah menjadi Penjara Setan. Terletak di Gedung Niaga Lantai 2,  Penjara Setan menawarkan pengalaman berkeliling di sebuah arena seluas 700 meter persegi yang keseluruhan ruangnya dapat dinikmati dalam bentuk 3D Chromadepth. Ya tentu saja anda perlu memakai kacamata 3D sehingga bisa terlihat lebih bagus. Namanya masuk penjara, kita akan bisa melihat sel yang terbuka, kekacauan di dalamnya dengan mahluk lepas ke sana ke mari. Menyelesaikan wahana ini tidak lama koq cuma memang perasaan terteror bikin 'kapan bisa keluarnya sih ini' Jangan salah, di setiap ruangan yang harus kita lewati, selalu ada chicken exit alias pintu darurat untuk yang sudah ketakutan. Tapi kan sayang ya sudah bayar Rp. 30.000 (untuk hari biasa) koq ga diselesaikan (prinsip ga mau rugi). Nah kebetulan ketika saya ke sana, salah satu mahluk yang menjadi bagian dari wahana bisa dikeluarkan. Tidak semua berani berfoto loh hahaha.

2. Pameran Smart Home. 

Sayang sekali ketika kami datang, orang yang bisa mengoperasionalkan bagaimana pintarnya rumah tersebut tidak ada. Intinya adalah mengatur tingkat terang lampu dan tirai dari ponsel yang kita miliki. Teknologi ini dibuat oleh CP Plus


3. Mobil Listrik dari MAN. 

Sama seperti pameran Smart Home, kami sempat lama menunggu kunci untuk mencoba. Petugas yang menjaga juga tidak proaktif menjelaskan kalau tidak kami tanya. Ternyata di buku tamu cukup banyak orang yang sudah tertarik dengan prototipe si mobil listrik ini. Kapasitas memang cuma untuk dua sampai tiga orang, tapi ruang dalam cukup untuk ditambahi tas ransel masing-masing penumpang. Ketika akhirnya kami memperoleh kunci di ruangan yang cukup lapang kami sempat mencoba maju mundur. Mungkin MAN perlu merevisi ban dan tinggi mobil tersebut ke jalan karena ya tahu sendiri polisi tidur di Indonesia sering dibuat sesukanya tanpa mengikuti peraturan resmi.
Nah itu beberapa pilihan saya untuk Pekan Raya Jakarta 2016. Penjara Setan, pameran Smart Home, dan Mobil Listrik sangat menarik karena belum pernah ada di Pekan Raya Jakarta sebelumnya. Selamat berkeliling!

25 Mei 2016

FamTripJaTeng: Kota Pekalongan I: Batik

Dalam famtrip ini, sebagian besar pusat wisata yang kami kunjungi ada di Pekalongan, sehingga saya akan membagi pengalaman di Kota Pekalongan dalam dua bagian. Bagian ini membahas hal yang paling lekat dengan Pekalongan, yaitu Batik. Tulisan batik ini akan dibagi berdasarkan tempat, karena ada 3 lokasi perjalanan.

Hari masih terik ketika kami sampai ke Pekalongan. Kata "Pekalongan" sendiri konon berasal saat Baurekso bertapa "topo ngalong" alias bertapa dengan posisi seperti kalong di atas gambiran di lokasi ini. Karena Baurekso bertapa seperti itu, nama tempat bertapanya juga jadi "Pe-Kalong-an" alias tempat topo ngalong.

Kalau diminta tanda apa yang menggambarkan batik dengan Pekalongan, saya akan pilih tanda sama dengan. Kota ini sangat - sangat serius mendalami batik sebagai seni dan budayanya. Kurikulum SD dan SMP Pekalongan berbasis batik, di Pekalongan ada STM Tekstil dan Batik, dan juga di Universitas Pekalongan sudah ada jurusan batik.

1. Museum Batik Pekalongan

Tujuan pertama kami adalah Museum Batik Pekalongan. Gedungnya sendiri sudah ada sejak dahulu kala. Awalnya digunakan sebagai pabrik tebu, lalu dijadikan Balaikota dan sekarang menjadi Museum Batik. Di dalam ada 3 ruangan Pameran dan ruangan audiovisual dan ruangan belajar membatik. Di dalam ruangan Pameran terdapat koleksi batik dari seluruh nusantara dan beberapa koleksi dari negara lain.

Selain melihat koleksi batik, kami juga sempat melihat dan mencoba sendiri proses pembuatan batik, baik batik cap maupun batik tulis. Museum Batik juga menyediakan paket belajar membatik sesuai dengan lebar kain yang ingin dibatik, serta paket alat-alat yang dibutuhkan untuk membatik seharga Rp.100.000,-.

Setelah itu kami menyempatkan diri untuk melihat presentasi audiovisual sejarah dan perjalanan batik di Pekalongan.


2. IBC (International Batik Center)

Kami mengunjungi IBC di siang hari. IBC ini menurut saya bentuknya seperti pasar modern, tapi yang dijual di kios - kiosnya semua adalah Batik. Berbagai macam batik tulis, cap, campuran ada di sini, harganya pun bervariasi mulai dari yang murah (banget) sampai yang mahal (banget). Kami datang di hari biasa, jadi keadaan tidak terlalu ramai sehingga bisa leluasa berbelanja dan foto - foto. Kalau weekend dan liburan menurut pengakuan penjual salah satu kios selalu ramai pembeli.

3. Kampung Batik

Ada beberapa kampung batik di Pekalongan, yaitu Kampung Batik Pesindon, Kampung Batik Kauman dan Kampung Batik Kemplong. Pada kesempatan ini kami mengunjungi Kampung Batik Pesindon. Letaknya di seberang Pasar Anyar. Jalannya tidak begitu besar, jadi bus yang kami pakai berhenti di jalan raya dan kami berjalan kami masuk. Toh jaraknya juga tidak jauh.

Ada gapura di depan jalan masuk kampung batik ini. Di sepanjang dinding di kiri dan kanan jalan, banyak lukisan dinding yang menyambut pengunjung dan memberikan beberapa penjelasan tentang batik. Kami kemudian diarahkan menuju salah satu showroom batik, yaitu Larissa. Di dalam sudah menunggu pendiri Larissa, yaitu Pak Eddy Wan .Pak Eddy kemudian menjelaskan asal usul berdirinya Larissa, berikut perkembangan usaha batik di Pekalongan sampai bisa ekspor ke luar kota Pekalongan. Kemudian Pak Eddy juga membawa kami ke ruang workshop, dimana kami bisa melihat langsung proses pembuatan batik yang dijual oleh Larissa.